Entri Populer

Saturday, March 19, 2011

Kecemasan efek radioaktif yang berlebihan

Meledaknya reaktor Nuklir Fukushima di Jepang, telah menebar kecemasan yang semakin tidak rasional. Bukan hanya di Jepang, melainkan sampai di Indonesia. Bukan hanya di internet dan SMS berantai, melainkan sudah menjadi kasak-kusuk dari mulut ke mulut.
 Saya sendiri menerima ’peringatan’ berantai agar hati-hati jika keluar rumah pada saat hujan. Karena boleh jadi air hujan itu sangat berbahaya, bersifat radioaktif ataupun hujan asam yang membahayakan kesehatan. Misalnya, kerontokan rambut, atau bahkan sampai kanker. Peringatan yang ’mengerikan’ itu masih ditambahi saran, agar SMS/ BBM itu diteruskan kepada siapa saja teman kita. Tentu yang demikian ini bisa menimbulkan kecemasan massal yang tidak rasional.

 Ada dua hal yang dijadikan dasar kecemasan tersebut. Yang pertama, adalah ledakan hidrogen yang meruntuhkan bangunan reaktor Fukushima. Disebutkan, banyaknya hidrogen di udara Jepang itu akan memicu terjadinya hujan asam. Bukan hanya di sekitar lokasi reaktor, melainkan sampai ke seluruh dunia, termasuk Indonesia. Saya kira, pemahaman seperti ini harus diluruskan.
 Dari manakah munculnya hidrogen yang bisa meledakkan bangunan reaktor nuklir itu? Akumulasi gas ringan yang sangat reaktif itu muncul sebagai hasil reaksi antara selongsong bahan bakar nuklir yang terbuat dari Zirkonium (Zr) dengan air pendingin reaktor dalam suhu yang sangat panas. Secara kimia ditulis: Zr + 2 H2O --> ZrO2 + 2H2.
 Pada saat pendingin reaktor tidak berfungsi, memang di sekitar selongsong bahan bakar itu akan terjadi pemanasan berlebihan yang menyebabkan ia bereaksi dengan air yang merendamnya. Gas Hidrogen itu lantas terlepas dan terkumpul dalam cungkup reaktor dalam jumlah yang sangat banyak.
 Gas Hidrogen adalah jenis gas yang sangat reaktif dan tidak bisa berdiri sendiri di udara, ia lantas bereaksi dengan oksigen bebas. Efeknya adalah ledakan dan semburan panas dengan kekuatan yang besar yang mampu meruntuhkan gedung reaktor. Tetapi, bukan inti reaktor yang berisi bahan bakar nuklir.
 Ledakan semacam ini, mirip dengan yang terjadi pada roket pembawa pesawat ruang angkasa. Semburan api yang besar dan ledakannya bisa menghasilkan gaya angkat roket menuju ke bagian atas atmosfer Bumi. Kekuatan dahsyat pada roket itu juga berasal dari reaksi hidrogen + oksigen.
 Yang perlu diketahui, reaksi Hidrogen + Oksigen pada roket maupun cungkup reaktor itu tidak menghasilkan hujan asam. Meskipun di sekitar lokasi reaksi. Apalagi sampai menyebar ke belahan dunia lain. Ini terlalu dibesar-besarkan. Bahkan, sebenarnya, hujan asam itu malah terjadi pada pembakaran bahan bakar fosil batubara yang berlebihan. Sehingga polusinya membubung ke awan, dan menimbulkan hujan asam. Bukan terjadi pada bahan bakar nuklir. Efek reaksi nuklir tidak akan menghasilkan hujan asam, melainkan limbah radioaktif.
 Namun demikian, terhadap efek radioaktif itu pun banyak persepsi yang masih keliru, serta berlebihan. Apalagi, banyak media massa yang tidak memberikan informasi secara berimbang, tentang bahaya radioaktif ini. Padahal, radioaktifitas itu hanya akan berbahaya jika dosisnya melebihi ambang yang diperbolehkan. Dalam skala normal, radioaktifitas sudah lumrah terjadi di sekitar kita.
 Saat menonton televisi misalnya, kita sudah memapar mata dan tubuh kita dengan radiasi berbahaya yang keluar dari tabung televisi. Juga saat bekerja dengan komputer, layar monitornya mengeluarkan radiasi. Begitu pula saat mengoperasikan mesin fotokopi, pekerjanya juga sedang terpapar radiasi. Apalagi sedang difoto rontgen pakai sinar X. Bahkan alam sekitar pun memapar kita dengan radiasi sinar kosmis. Tingkat bahaya radiasi adalah seiring dengan dosis yang diterima oleh tubuh. Selama hal itu masih berada di bawah ambang batas, maka semuanya akan baik-baik saja.
 Maka, ketika para pekerja reaktor Fukushima terkena radiasi nuklir, kita tidak bisa serta merta mengatakan itu sebagai bencana yang membahayakan. Masih harus dilihat seberapa besar dosis yang mereka terima. Tetapi, memang harus dilakukan langkah antisipatif agar tidak kecolongan.
 Data terakhir yang dikeluarkan oleh pemerintah Jepang menyebutkan, dosis radiasi yang ada di dalam gedung reaktor yang tadinya 100 miliSieverts sesaat setelah ledakan, kini sudah menurun menjadi sekitar 150 mikroSieverts. Ini sudah lebih rendah dari dosis sinar rontgen yang biasa digunakan untuk memotret tubuh kita yang berkisar 600 mikroSieverts. Maka meskipun terpapar radiasi nuklir, tetapi jika dosisnya hanya sebesar itu, tidaklah membahayakan manusia, asal setelah itu dikarantinakan.
 Untuk itu, di dalam dunia radiologi dikenal ukuran radiasi yang masih diperbolehkan untuk diterima manusia, dalam skala Rem (radiation equivalen man). Dalam bentuk radiasi apa saja, termasuk ketika seseorang melakukan pemeriksaan Rontgen, ia harus mempertimbangkan aturan skala radiasi yang boleh diterima tubuh itu. Besarnya tergantung pada jenis organ tubuh dan usia orang yang terpapar radiasi. Pada anak muda lebih sensitif dibandingkan pada orang dewasa. Demikian pula, berbeda bagi orang awam dan pekerja radiasi.
 Sebagai contoh, bagi orang awam, paparan yang mengenai tubuhnya atau sumsum tulang merah, dan organ reproduksinya tidak boleh lebih dari 0,5 Rem per tahun. Sedangkan pada pekerja radiasi boleh sampai 5 Rem per tahun. Pada organ kulit, tulang, dan Thyroid boleh terkena radiasi sebesar 3 Rem per tahun untuk orang awam, dan 30 Rem per tahun pada pekerja radiasi.
 Sementara itu, pada bagian tangan, lengan, kaki dan betis, boleh terpapar radiasi sampai 7,5 Rem per tahun untuk orang awam, dan 75 Rem per tahun pada pekerja radiasi. Selebihnya, organ-organ lainnya, boleh terkena paparan sebesar 1,5 Rem per tahun untuk awam, dan 15 Rem per tahun untuk pekerja radiasi.
 Artinya, jika kita terkena paparan radiasi di bawah ambang ukuran tersebut, tidak akan membahayakan kesehatan kita. Efek kanker baru terjadi pada dosis radiasi yang sangat tinggi. Misalnya, dosis 300 Rem terbukti menyebabkan kanker pada hewan coba tikus. Sedangkan kanker kulit baru terjadi pada dosis antara 2000 – 5000 Rem.
 Maka, saya kira adalah lebih bijaksana jika kita memahami efek radioaktifitas ini secara lebih rasional. Pemberitaan yang berimbang dari media massa akan memberikan efek edukasi bagi masyarakat kita secara proporsional. Karena, siapa tahu, Indonesia akan memilih PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir) di masa depan sebagai langkah diversifikasi energinya.
 Yakni, ketika bahan bakar fosil seperti minyak, batubara, dan gas alam sudah tak bisa diandalkan lagi secara penuh, karena segera habis tidak lama lagi. Juga, pembangkit listrik tenaga air yang sangat memprihatinkan, karena kerusakan lingkungan yang semakin parah. Sangat boleh jadi, beberapa tahun ke depan Indonesia akan menyongsong datangnya krisis energi yang mengkhawatirkan.
Oleh : agusmustofa ~ dimuat di Jawa Pos, Kamis, 17 Maret 2011.
 * Penulis buku, alumnus Teknik Nuklir Universitas Gadjahmada.

No comments:

Post a Comment